Selasa, 3 November 2026 · 23 Jumadilawal 1448 H
Khutbah

Khutbah Jumat: Amanah Menjaga Kelestarian Alam

AP

Administrator PCM Babulu

16 Oktober 2026, 16.17 WITA

Khutbah Jumat: Amanah Menjaga Kelestarian Alam

KHUTBAH PERTAMA

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، أَمَّا بَعْدُ

قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

Jamaah salat Jumat yang berbahagia,

Sepanjang musim kemarau tahun ini, kita menyaksikan banyak wilayah di tanah air dilanda kekeringan. Tercatat kekeringan di berbagai daerah di pulau Jawa, sementara kebakaran hutan dan lahan meluas di Sumatera, Kalimantan dan Papua, bahkan pulau Sulawesi pun ikut terkena kabut asap. Ribuan warga bergantung pada bantuan air bersih, dan asap mengganggu kesehatan kita.

Peristiwa ini bukan sekadar urusan cuaca. Ia mengetuk kesadaran kita tentang bagaimana kita memperlakukan alam, dan bagaimana generasi muda kita harus disiapkan untuk menjaganya.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 190 sampai 191:

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ . ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ

Artinya: "Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang, terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), 'Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.'"

Ayat ini mengajarkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang boleh dikuras habis-habisan. Hutan, sungai, tanah, dan air adalah tanda-tanda kebesaran Allah. Orang beriman yang sungguh merenungkannya akan lahir menjadi pribadi yang menjaga, bukan merusak.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Manusia diberi kepercayaan sebagai khalifah fil ardh, penjaga bumi bukan perusaknya. Allah mengingatkan kita dalam Surat Al-A'raf ayat 56:

وَلَا تُفْسِدُوا۟ فِى ٱلْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَٰحِهَا وَٱدْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Artinya: "Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah (Allah) memperbaikinya, dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang-orang yang berbuat kebaikan."

Merusak alam berarti mengkhianati amanah. Dan setiap amanah kelak akan dimintai pertanggungjawaban.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Kebakaran lahan yang sengaja dibuka dengan cara dibakar, sampah yang menumpuk di sungai, hutan yang ditebang tanpa kendali, dan lahan bekas tambang yang ditinggalkan adalah contoh nyata dari ayat ini. Berdasarkan data dan fakta di lapangan, masih ada ribuan lubang bekas tambang di Kalimantan Timur yang belum dipulihkan. Lebih dari 50 orang dilaporkan meninggal tenggelam di lubang-lubang itu sejak tahun 2011, dan Pesut Mahakam, kini tinggal puluhan ekor di alam liar. Dalam penilaian kinerja lingkungan dunia tahun 2024, Indonesia pun berada di peringkat 162 dari 180 negara.

Kita tidak menafikan manfaat sumber daya alam bagi pembangunan negeri. Yang dituntut adalah pengelolaan yang adil, bertanggung jawab, dan berkelanjutan, bukan menghentikan semuanya secara mendadak, tetapi bergerak bertahap ke arah yang tidak mewariskan kerusakan kepada anak cucu kita.

Muhammadiyah mengenalkan teologi Al-Ma'un, yaitu iman yang tidak berhenti di ucapan, tetapi tampak dalam kepedulian nyata kepada sesama. Hubungan teologi Al-Ma’un dengan menjaga alam terletak pada perluasan makna kesalehan sosial menjadi kesalehan ekologis. 

Jika Al-Ma’un mengecam orang yang menindas anak yatim dan mengabaikan orang miskin, maka dalam konteks menjaga kelestarian alam, pencemaran lingkungan, pembalakan liar dan berbagai macam kerusakan alam yang disengaja adalah bentuk ketidakpedulian yang meluas. Dampak buruk dari kerusakan alam selalu menimpa kaum yang rentan (mustadh’afin) terlebih dahulu.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Generasi muda adalah pihak yang paling lama hidup di bumi yang kita wariskan hari ini. Karena itu, persoalan lingkungan tidak boleh luput dari perhatian mereka. Ada tiga peran yang dapat diambil oleh para pemuda, yaitu;

  • Menyuarakan dan mengedukasi. Kedekatan pemuda dengan media sosial adalah modal besar untuk menumbuhkan kesadaran lingkungan, bukan sekadar hiburan.

  • Bergerak melalui aksi nyata. Dimulai dari langkah sederhana: memilah dan membuang sampah dengan benar, menghemat air, membersihkan lingkungan, menanam pohon, dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.

  • Mengawal kebijakan. Pemuda perlu terlibat dalam pembahasan kebijakan lingkungan, memberi masukan yang solutif, dan ikut mengawal agar pengelolaan sumber daya alam, berjalan benar dan adil bagi masyarakat.

Kewajiban ini tidak hanya di pundak pemuda. Orang tua, tokoh masyarakat, dan para pengurus masjid, sekolah dan pimpinan-pimpinan lembaga atau ormas perlu membimbing dan memberi ruang. 

Menanam, merawat, dan menjaga bukan hanya kerja lingkungan, tetapi ibadah yang pahalanya terus mengalir.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Bumi menyediakan kecukupan bagi kebutuhan semua orang, tetapi tidak akan pernah cukup bagi keserakahan. Maka marilah kita membiasakan hidup sederhana, tidak boros air dan energi, dan tidak menjadikan alam sekadar obyek untung sesaat.

Semoga Allah Swt. menjadikan kita, dan generasi muda kita, hamba-hamba yang amanah dalam menjaga bumi ini.

جَعَلَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ القَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ، أُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ هَدَاهُمُ اللهُ وَأُوْلَئِكَ هُمْ أُوْلُوْا الأَلْبَابِ، جَعَلَنِيَ اللهُ وَإِيَّاكُمْ جَمِيْعًا مِنَ الَّذِيْنَ يَهْدُوْنَ بِالحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُوْنَ

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ، وَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

Jamaah salat Jumat yang berbahagia, marilah kita tutup khutbah ini dengan doa, memohon kepada Allah Swt. agar kemarau dan kebakaran lahan segera berakhir, dan agar kita dimampukan menjaga bumi yang diamanahkan kepada kita.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ

اَللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيْثًا مَرِيْئًا مَرِيْعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ فِي الْأَرْضِ وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

Ya Allah, jadikanlah kami dan generasi muda kami termasuk orang-orang yang memperbaiki bumi, bukan yang merusaknya. 

Padamkanlah api yang membakar hutan dan lahan, hilangkanlah asap, dan mudahkanlah saudara-saudara kami mendapatkan air bersih. 

Berilah para pemimpin dan pengelola negeri ini hikmah dan sikap amanah dalam mengelola kekayaan alam, agar hasilnya adil bagi seluruh rakyat dan kelestariannya terjaga untuk anak cucu kami.

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Setiawan Misbachul Lail, M.Pd – Majelis Tabligh PCM Babulu

Bagikan

Berita Terkait